Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian Stunting di Kota Kupang
DOI:
https://doi.org/10.55642/phasij.v5i01.1233Keywords:
stunting, status imunisasi, balita, kesehatan anakAbstract
Latar Belakang: Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang serius di negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian stunting pada balita adalah status imunisasi yang tidak lengkap, yang dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi dan mengganggu proses pertumbuhan anak.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status imunisasi dengan kejadian stunting pada balita di Kota Kupang.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan case control. Populasi penelitian adalah balita berusia 12–59 bulan yang berada di wilayah kerja puskesmas di Kota Kupang. Jumlah sampel sebanyak 96 balita yang terdiri dari 48 balita stunting sebagai kelompok kasus dan 48 balita tidak stunting sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran antropometri, wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, serta penelusuran data imunisasi dari buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan perhitungan Odds Ratio (OR) dengan tingkat signifikansi p < 0,05.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status imunisasi dengan kejadian stunting pada balita (p = 0,018). Nilai Odds Ratio sebesar 3,12 dengan interval kepercayaan 95% CI (1,40–6,95) menunjukkan bahwa balita dengan status imunisasi dasar tidak lengkap memiliki risiko 3,12 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang memiliki imunisasi lengkap.
Kesimpulan: Kelengkapan imunisasi memiliki peran penting dalam mencegah penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Oleh karena itu, peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap serta edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya imunisasi menjadi strategi penting dalam upaya menurunkan angka stunting pada balita
References
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2023). Survei kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Hossain, M., Choudhury, N., Abdullah, K., Mondal, P., Jackson, A., Walson, J., & Ahmed, T. (2022). Evidence of the association between vaccination and child growth outcomes. Maternal & Child Nutrition, 18(2), 1–10. https://doi.org/10.1111/mcn.13243
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil kesehatan Indonesia tahun 2022. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Buku saku hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023. Kementerian Kesehatan RI.
Prendergast, A. J., & Humphrey, J. H. (2022). The stunting syndrome in developing countries. Paediatrics and International Child Health, 42(1), 1–10. https://doi.org/10.1080/20469047.2021.1958993
Rahman, M. S., Howlader, T., Masud, M. S., & Rahman, M. L. (2021). Association of low birth weight with malnutrition in children under five years. Public Health Nutrition, 24(12), 1–9. https://doi.org/10.1017/S1368980021001750
Sari, M., Nurhayati, E., & Wulandari, R. (2023). Determinants of childhood immunization coverage in Indonesia. Journal of Public Health Research, 12(1), 45–52.
UNICEF. (2023). The state of the world’s children 2023: For every child, vaccination. United Nations Children’s Fund.
World Health Organization. (2022). Levels and trends in child malnutrition: Key findings of the 2022 edition. World Health Organization.
World Health Organization. (2023). Immunization agenda 2030: A global strategy to leave no one behind. World Health Organization.













